Tujuan utama dalam memberikan pertolongan pertama saat terjadi kejang adalah melindungi penderita dari cedera yang mungkin terjadi akibat gerakan tubuh yang tidak terkontrol. Langkah pertama adalah segera jauhkan benda-benda keras atau tajam di sekitar penderita, seperti meja, kursi, atau tas, agar kepala dan anggota tubuhnya tidak terbentur. Jika memungkinkan, alasi bagian bawah kepala penderita dengan benda empuk seperti jaket atau tas yang lembut untuk meredam benturan ke lantai. Tetaplah berada di samping penderita hingga kejang benar-benar berhenti.
Kejang merupakan kondisi medis yang sering membuat orang di sekitarnya panik, terutama jika terjadi secara mendadak di lingkungan sekolah. Di berbagai sekolah, masih terdapat mitos berbahaya yang menyatakan bahwa kita harus memasukkan benda seperti sendok, kayu, atau dompet ke dalam mulut penderita agar lidahnya tidak tertelan. Hal ini benar-benar harus dihindari. SMPN 1 dalam panduan keselamatannya menegaskan: jangan masukkan benda apa pun ke dalam mulut penderita kejang, karena tindakan ini justru bisa memicu cedera pada gigi, gusi, atau bahkan menyebabkan sumbatan jalan napas yang lebih parah.
Jangan pernah mencoba menahan atau memegang anggota tubuh penderita secara paksa untuk menghentikan gerakannya. Memaksa otot yang sedang mengalami kontraksi hebat justru dapat menyebabkan patah tulang atau cedera otot yang permanen. Biarkan kejang berlangsung secara alami dan fokuslah pada keamanan penderita. Setelah kejang berhenti, biasanya penderita akan berada dalam kondisi bingung dan sangat lelah. Inilah saat yang tepat untuk memposisikan mereka ke posisi pemulihan (recovery position) guna memastikan saluran pernapasan tetap terbuka, jika penderita masih belum sepenuhnya sadar.
Perhatikan durasi kejang yang dialami teman Anda. Sebagian besar kejang akan berakhir dengan sendirinya dalam waktu kurang dari lima menit. Namun, jika kejang berlangsung lebih lama dari itu, atau terjadi berulang-ulang tanpa jeda kesadaran yang jelas, segera cari bantuan medis darurat. Kejang yang berkepanjangan adalah kondisi darurat medis yang memerlukan intervensi tenaga kesehatan profesional segera. Kecepatan dalam menghubungi guru atau petugas medis sekolah adalah kunci untuk memastikan penderita mendapatkan perawatan yang tepat.
Edukasi mengenai kejang ini diberikan agar siswa tetap tenang dan tidak bertindak impulsif. Ketenangan adalah aset berharga dalam menangani situasi darurat medis. Siswa diajarkan untuk tidak memegang mulut penderita, tidak memberikan minuman, dan tidak mencoba membangunkan dengan mengguncang tubuh mereka secara kasar. Memberikan rasa aman dan menjaga lingkungan sekitar tetap kondusif adalah tugas utama siswa di lapangan.