Teknologi Bioflok di SMPN 1 Lamongan: Cara Ternak Lele di Lahan Sempit Sekolah

Lamongan dikenal sebagai salah satu sentra perikanan darat terbesar di Jawa Timur, namun keterbatasan lahan sering kali menjadi kendala bagi masyarakat perkotaan atau sekolah yang ingin mencoba budidaya ikan. Menghadapi tantangan tersebut, SMPN 1 Lamongan memperkenalkan inovasi budidaya yang efisien dan berkelanjutan melalui penerapan teknologi bioflok. Metode ini bukan sekadar cara baru memelihara ikan, melainkan sebuah sistem rekayasa lingkungan air yang memanfaatkan mikroorganisme untuk mengubah limbah organik menjadi pakan alami, sehingga menghasilkan ekosistem mandiri di dalam wadah yang terbatas.

Fokus utama dari program ini adalah mengajarkan siswa mengenai cara ternak lele yang modern dan bersih. Berbeda dengan kolam konvensional yang sering kali berbau dan memerlukan pergantian air secara rutin, sistem bioflok menggunakan bakteri pengurai (probiotik) yang membentuk gumpalan-gumpalan atau “flok”. Siswa di SMPN 1 Lamongan belajar cara mengelola keseimbangan antara pasokan oksigen, karbon, dan nitrogen di dalam air agar bakteri baik tersebut tetap hidup. Pengetahuan mikrobiologi terapan ini memberikan pengalaman belajar yang sangat kaya, di mana siswa dapat melihat secara langsung bagaimana limbah pakan dan kotoran ikan diubah menjadi protein tinggi oleh mikroba.

Implementasi proyek ini dilakukan di lahan sempit sekolah, yang biasanya hanya berupa sudut halaman yang tidak terpakai. Penggunaan kolam terpal berbentuk bundar memungkinkan sekolah untuk memproduksi ikan dalam jumlah besar di area yang minimalis. Siswa dilatih untuk melakukan pemantauan harian terhadap parameter air, seperti suhu dan tingkat keasaman (pH). Mereka juga belajar menghitung rasio pakan (Feed Conversion Ratio) untuk memastikan bahwa budidaya ini tidak hanya berhasil secara biologis, tetapi juga menguntungkan secara ekonomi. Hal ini melatih jiwa kewirausahaan siswa sejak dini di sektor agribisnis yang berbasis teknologi.

Keterlibatan aktif siswa SMPN 1 Lamongan dalam mengelola kolam bioflok ini memberikan dampak positif pada kemandirian pangan sekolah. Hasil panen lele kemudian diolah bersama menjadi berbagai produk makanan sehat di kantin sekolah. Proses dari pembibitan, pemeliharaan, hingga pemanenan memberikan pelajaran tentang kesabaran dan ketelitian. Di tahun 2026, keterampilan untuk menghasilkan sumber protein secara mandiri di lingkungan perkotaan adalah kompetensi yang sangat relevan untuk menghadapi isu ketahanan pangan global. Siswa menyadari bahwa untuk menjadi produsen pangan, mereka tidak selalu membutuhkan tanah berhektar-hektar, melainkan kreativitas dan penguasaan teknologi.